Kesiapan Anak Menghadapi Perceraian
Perceraian seringkali berakhir menyakitkan bagi pihak-pihak yang terlibat, termasuk di dalamnya adalah anak-anak. Perceraian juga dapat menimbulkan stres dan trauma untuk memulai hubungan baru dengan lawan jenis. Menurut Holmes dan Rahe, perceraian adalah penyebab stres kedua paling tinggi, setelah kematian pasangan hidup.
Pada umumnya orangtua yang bercerai akan lebih siap menghadapi perceraian tersebut dibandingkan anak-anak mereka. Hal tersebut karena sebelum mereka bercerai biasanya didahului proses berpikir dan pertimbangan yang panjang, sehingga sudah ada suatu persiapan mental dan fisik. Tidak demikian halnya dengan anak, mereka tiba-tiba saja harus menerima keputusan yang telah dibuat oleh orangtua, tanpa sebelumnya punya ide atau bayangan bahwa hidup mereka akan berubah. Tiba-tiba saja Papa tidak lagi pulang ke rumah atau Mama pergi dari rumah atau tiba-tiba bersama Mama atau Papa pindah ke rumah baru. Hal yang mereka tahu sebelumnya mungkin hanyalah Mama dan Papa sering bertengkar, bahkan mungkin ada anak yang tidak pernah melihat orangtuanya bertengkar karena orangtuanya benar-benar rapi menutupi ketegangan antara mereka berdua agar anak-anak tidak takut.
Hal-hal yang biasanya dirasakan oleh anak ketika orangtuanya bercerai adalah:
tidak aman (insecurity),tidak diinginkan atau ditolak oleh orangtuanya yang pergi,
sedih dan kesepian,
marah,
kehilangan,
merasa bersalah, menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab orangtua bercerai.
Perasaan-perasaan tersebut di atas oleh anak dapat termanifestasi dalam bentuk perilaku:
suka mengamuk, menjadi kasar, dan tindakan agresif lainnya,menjadi pendiam, tidak lagi ceria, tidak suka bergaul,
sulit berkonsentrasi dan tidak berminat pada tugas sekolah sehingga prestasi di
sekolah cenderung menurun,
suka melamun, terutama mengkhayalkan orangtuanya akan bersatu lagi.
Upaya-Upaya yang Bisa Dilakukan untuk Menanggulangi Akibat Negatif dari Perceraian
